Kamis, 17 November 2011

puisi


Terimakasihku
 
 oleh: Nurul Hayati

Ku duduk sendiri
Dalam termangu
Di sudut ruang, termenung
Entah berapa banyak
Jasa ayahanda dan ibunda
Tak terhitung lebih apapun
Untuk kami, anak mereka
Tak sanggup ku pikirkan
ucap terimakasih saja
Tak kunjung sampai di gendang telinga mereka

Melalui tulisan ini, buah karya pertamaku
Walau tak sempurna
Ingin ku kirim ucap itu
Kepada ayahanda dan ibundaku
Hanya untuk mereka berdua

Semua rela mereka lakukan
Demi masa cerah kami
Terimakasih, ucapku
Untuk semua yang telah kalian berikan

Ku duduk sendiri
Di tempat berbeda
Termenung dan menangis
Ayah, ibu…
Aku benar-benar salut dengan kalian
Kalian orang terhebat di dunia
Bukan dari jabatan atau uang
Tapi jasa dan pengorbananmu
Sekali lagi
Terimakasih kuucapkan hanya untuk kalian
Kalian adalah segala-galanya
Maafkan kami
Atas keegoisan dan kemarahan kami
Tapi tetap kalian rangkul, peduli dan kalian nasehati

Nurul hayati adalah mahasiswi FKIP Unsyiah, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Kamis, 27 Oktober 2011

Nilailah Sesukamu

Nilailah Sesukamu

oleh: Nurul Hayati

Terserah padamu
Menilai aku seperti apa
Aku adalah aku
Kamu adalah kamu
Tanpamu dunia tetap berputar
Menuruti sumpahnya

Terserah padamu
Berpikir siapa aku

Mengapa aku bagai alang-alang ditiup angin

Tak tau arah kehidupan


Semua terserah padamu
Di dunia ini,
Aku hidup ditangannya
Tak ingin melontar janji-janji palsu

Dunia ini, hanya naungan sementara
Semua telah terukir
Akhir nasib, tiada yang tahu
Nerakanya…
atau syurganya…

                                Nurul Hayati adalah mahasiswi UNSYIAH,
                                fakultas KIP, jurusan Pendidikan Bahasa dan 
                                Sastra Indonesia

Selasa, 11 Oktober 2011

Pertanda

Entah berantah
Dimana dikau diletakkan
Dimana dikau berada
Walau begitu menjengkelkan
Dikau begitu sempurna


Tak bisa dibayangkan
Tanpa dikau
Tatusan nyawa melayang
Tanpa dikau
Ratusan merintih luka


Dikau memberi isyarat
Isyarat pertanda
Agar kami selamat
Dari panggilan maut yang tak tentu


Oleh: Nurul Hayati